Tampilkan postingan dengan label Refferensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refferensi Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juli 2009

Outliers : The Story of Succes By Malcolm Gladwell



”Success….is grounded in a web of advantages and inheritances, some deserved, some not, some earned, some just plain lucky,” demikian Gladwell menuliskan salah satu kesimpulannya.

Sebuah buku yang sangat sayang untuk dapat dilewatkan, buku ini berjudul : Outliers : The Story of Succes karangan Malcolm Gladwell. Gladwell telah membius publik dunia melalui dua buku sebelumnya, berjudul Tipping Point (yang merubah cara kita memahami dunia) dan Blink (yang telah merubah the way we think about thinking). Dua buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sama seperti dua buku sebelumnya, dalam bukunya yang ketiga ini Gladwell menyuguhkan kejeniusannya dalam merangkai cerita : setiap paragraf dalam bukunya selalu dirajut dengan penuh keindahan, menghanyutkan, dan semuanya dibalut dalam kerenyahan yang menggiurkan dan yang pasti sangat berguna bagi para pembacanya.

Jadi, apa rahasia sebenarnya untuk meraih kesuksesan ? Dalam banyak buku populer, kesuksesan acap dipahami sebagai sebuah produk dari kejeniusan seseorang, mentalitas atau mindset yang positif, motivasi kerja yang kuat, dan serangkaian karakter positif lainnya. Demikianlah, kita lalu menempatkan kisah sukses Bill Gates misalnya, dalam konteks semacam itu. Kita memandangnya sebagai tokoh visioner yang jenius dan brilian, dan melalui kerja keras serta talentanya ia bisa membangun kesuksesan yang luar biasa. Dengan kata lain, kesuksesan acap dibaca sebagai hasil dari kehebatan yang bersifat individual.

Gladwell menjelaskan narasi kesuksesan semacam itu hanyalah ilusi. Benar, elemen-elemen tentang kerja keras dan talenta memegang peran, namun kesuksesan sesorang ternyata jauh lebih banyak ditentukan oleh serangkaian keberuntungan, lingkungan dimana kita bekerja, dari mana kita berasal, dan juga kultur hidup yang membesarkan kita. ”Success….is grounded in a web of advantages and inheritances, some deserved, some not, some earned, some just plain lucky,” demikian Gladwell menuliskan salah satu kesimpulannya.

Kisah kesuksesan semacam itu mungkin secara dramatis bisa kita baca dari kisah berikut ini. Alkisah, terdapat dua sarjana yang sama-sama brilian dan lulus dari sebuah perguruan tinggi ternama di tanah air. Keduanya merupakan sahabat, dan keduanya memiliki prestasi yang mengagumkan, baik dalam aspek akademis ataupun aspek ekstra kurikuler (keduanya aktif dalam organisasi kampus dan dua-duanya dikenal memiliki talenta kepemimpinan yang sangat baik).

Ketika lulus, satu orang diterima bekerja di sebuah perusahaan yang relatif baru, dinamis, dan berada dalam industri yang tengah berkembang pesat. Satunya lagi memilih bekerja di sebuah perusahaan yang amat besar dengan usaha yang mendekati monopoli, kultur kerja yang birokratis, dan penuh kemapanan. Begitulah, sepuluh tahun kemudian mereka bertemu kembali, dan betapa bedanya nasib mereka. Kawan kita yang bekerja di perusahaan dinamis itu telah tumbuh menjadi top eksekutif yang sukses dan diburu para headhunter; sementara kawan kita satunya lagi stuck on the middle of nowhere.

Apakah kesuksesan itu karena kawan kita yang satu lebih hebat, lebih positif mindsetnya, lebih termotivasi dibanding satunya lagi ? Tidak. Kawan kita yang satu berhasil karena ia bekerja pada lingkungan yang benar; dan kantornya telah memberikan serangkaian “kesempatan” dan “keberuntungan” (misal perusahaannya beruntung di-akuisisi oleh perusahaan asing sehingga ia berkesempatan melakukan banyak penugasan kerja di luar negeri; juga ia beruntung karena industri dimana perusahaannya berkiprah tumbuh pesat sehingga dengan cepat tersedia banyak posisi kosong ; dan ia beruntung perusahaan itu masih muda, sehingga ia bisa cepat melesat naik posisinya).

Sementara kawan kita satunya lagi “stuck” lantaran ia berada pada habitat yang salah. Kantor tempatnya bekerja penuh dengan politicking, tidak peduli dengan pengembangan SDM, dan penuh dengan birokrasi yang mematikan. Talentanya layu sebelum sempat tumbuh; dan kesuksesan karir tak pernah bisa ia raih.

Esensi dari kisah diatas sama dengan apa yang dinarasikan dalam buku Gladwell ini. Sukses ternyata memang lebih banyak ditentukan oleh dinamika lingkungan dimana kita berkiprah dan berkarya.

Pertanyaanya sekarang adalah : apakah habitat atau lingkungan tempat Anda berkarya saat ini merupakan lingkungan yang tepat ? Sebuah lingkungan yang bisa menyodorkan “keajaiban”, “luck”, dan serangkaian “berkah terselubung” dalam perjalanan hidup Anda ? Atau sebaliknya, sebuah tempat dimana kesuksesan senantiasa merupakan sebuah impian kosong; bak buih fatamorgana yang selalu lenyap setiap kali kita hendak mendekatinya ?

Senin, 15 Juni 2009

Buku Boediono "Ekonomi Indonesia Mau Kemana ?"



Calon wakil presiden Boediono yang mendapingi calon presiden incumbent, Susilo Bambang Yudhoyono, memaparkan pemikiran ekonominya dalam sebuah buku berjudul "Ekonomi Indonesia Mau Kemana?"

"Tulisan ini merupakan tulisan saya dari dulu. Buku ini bukan untuk kampanye melainkan sebagai bagian pencerahan dan mengajak masyarakat untuk berpikir rasional dan jernih," katanya dalam kata sambutan diskusi bukunya di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin.

Pakar Ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut mengatakan dalam buku ini Boediono mengangkat tema Ekonomi Indonesia mau kemana, namun secara substansial dia menjelaskan mengenai hubungan negara dan pasar.

Dia juga menyadari bahwa di Indonesia keduanya masih belum sempurna baik itu pemerintah dan pasar.

Menurutnya "goverment failure" atau kesalahan kebijakan pemerintah akan lebih berbahaya daripada "market failure" atau kesalahan kebijakan pasar karena kesalahan kebijakan pasar masih bisa diubah kapan saja, sedangkan kesalahan kebijakan pemerintah baru bisa diperbaiki dalam jangka waktu setidaknya dalam waktu lima tahun.

Dalam bukunya, Boediono juga menekankan pentingnya konsistensi kebijakan mengenai minat para investor menanamkan modalnya di dalam negeri. Konsistensi kebijakan ini juga tergantung oleh sikap baik dari para pemimpin, politik, masyarakat dan individu, diharapkan kebijakan ini dapat berjalan secara berkesinambungan, tambah Faisal.

Saat ini, proses pembangunan Indonesia tidak ada yang melalui jalan pintas. Untuk mencapai tujuan, pemerintah tidak boleh menghalalkan segala cara.

Jika itu dilakukan, katanya, maka akan sama saja dengan mencabik-cabik peraturan yang ada dan memperparah institusi.

Toni Prasetianto yang juga dosen ekonomi di UGM mengatakan, dari kumpulan esai yang ditulis Boediono, semua orang yang belajar ekonomi pasti akan mencium bau neoliberal dalam tulisan ini, meski diperlukan kebijaksanaan dalam menerapkannya.

"Neoliberalisasi bukan sebuah dosa," kata Toni yang dalam kesempatan itu juga menjadi pembicara.

Toni mencontohkan kebijakan ekonomi sebagai sebuah resep obat yang jika penggunaannya tidak pada waktunya dan melebihi dosis yang seharusnya akan menimbulkan kontraindikasi.

Ia juga menegaskan bahwa privatisasi BUMN tidak salah asalkan memungkinkan, selain privatisasi juga mendorong pemerintah untuk menjadi lebih transparan .

"Pak Boed juga mengajak untuk memberikan sebuah keteladanan untuk menciptakan terjadinya good governance" katanya.

Toni menambahakan untuk menciptakan "good governance" diperlukan keteladanan dari para pemimpinnya agar bisa diikuti dan menjadi panutan masyarakat.