Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2009

Ketamakan Dalang Krisis Global



Paus Benediktus XVI menyalahkan sikap tamak dan egois sebagai dalang krisis finansial global. Pernyataan itu dimuat dalam ensiklik terbaru Paus. Surat edaran dari Paus kepada para uskup yang merupakan bentuk tertinggi dari ajaran kepausan tersebut akan dipublikasikan di malam pertemuan G8 di L'Aquila, Italia, pekan ini.

Seperti dikutip dari laman stasiun televisi BBC, surat tersebut akan mengingatkan para pemimpin dunia, bankir, pebisnis, dan orang biasa akan kewajiban moral mereka. Edaran tersebut, "Caritas in Veritate" atau "Charity in Truth" adalah edaran ketiga yang dibuat Paus Benediktus sejak ditasbihkan menjadi Paus pada 2005.

Di hadapan pastur-pastur di Roma pada awal tahun, dua tahun lalu saat Paus Benediktus mulai menulis surat edaran tersebut, dia mengatakan, tidak ingin memberi jawaban sederhana atas pertanyaan kompleks mengenai ekonomi dunia. Namun dia akan menyebut secara rinci bahwa ketamakan dan keegoisan manusia sebagai akar penyebab krisis ekonomi.

Sementara sistem finansial global memerlukan perubahan, kata Paus Benediktus, masing-masing individu juga harus menyadari bahwa mereka harus berkorban secara pribadi untuk membantu kaum miskin dan bergerak menuju kehidupan yang lebih adil.

Jumat pekan ini, Paus Benediktus akan melakukan pertemuan pertama dengan Presiden Barack Obama di Vatikan. Obama akan memiliki kesempatan bertukar pikiran dengan Paus Benediktus mengenai kewajiban moral yang dihadapi para pemimpin negara pada 2009.

Sabtu, 30 Mei 2009

Kata Maaf dalam kaidah Memberi dan Meminta



Setelah melakukan suatu kesalahan, permintaan maaf seringkali dapat dengan mudah diucapkan. Budaya kita memang sudah mengajarkan hal yang seperti ini. Meskipun mungkin terkadang ada permintaan maaf yang dilontarkan dengan berat hati atau dengan tidak sepenuhnya rela, namun kata ‘maaf’ yang terucap tetap mencerminkan suatu penyesalan. Suatu kata yang hampir secara otomatis kita ucapkan saat kita menyadari bahwa perbuatan yang kita lakukan itu salah, atau telah menyinggung orang lain.

Kalau melihat dari sisi sebaliknya, ternyata memberi maaf bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dari berbagai cerita selama ini, banyak peristiwa yang mencerminkan hal ini. Permintaan maaf seringkali tidak serta merta diiringi dengan perasaan rela memaafkan.

Contohnya saja, meskipun orang lain sudah minta maaf, kita masih mengingat-ingat kejadian saat kita disakiti oleh orang lain, terlebih lagi jika kita merasakan ada kerugian yang timbul akibat kesalahan orang tersebut. Seolah-olah ada rasa tidak puas bila orang yang melakukan kesalahan tersebut belum merasakan kerugian yang sama.

Untuk meminta maaf itu membutuhkan keberanian yang sangat besar dan kemauan yang tinggi. Nah nggak ada salahnya kalau kita untuk menghargai keberanian itu dengan juga memberikan maaf. Bagaimana dengan hati ? apa nggak dipikirin ? Iya, sakit hati memang lebih sakit daripada sakit gigi, tapi ya apa mau terus-terusan sakit hati ? Semua sakit nggak akan sembuh kalau dari dalam dirinya tidak ada keinginan untuk sembuh.

Meminta maaf memang bukan hal yang mudah; kadang kita tidak menyadari bahwa tindakan kita telah menyakiti orang lain. Di sisi lain, memberi maaf juga sulit dilakukan; karena kadang masih tetap mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Ternyata tidak mudah menanamkan sikap iklas dalam diri untuk memaafkan orang lain.

Memaafkan adalah tindakan yang mulia, tiada seorangpun yang terlepas dari kesalahan. Sering terjadi sebuah perbuatan atau tindakan kita menghasilkan suatu hal yang tidak menyenangkan ataupun menciptakan luka pada orang lain. Marilah kita tumbuhkan sikap dalam tindakan kita, untuk mampu memberi dan berani untuk meminta "Maaf" atas suatu hal yang terjadi atas perbuatan kita. Kita juga harus mengerti dan mau menerima dengan jiwa besar, bilamana permintaan tulus kita akan maaf belum dapat diterima oleh orang lain.




Minggu, 08 Maret 2009

Belajar Tak Kenal Henti


Saat ini kita hidup di era yang kemajuan dan peradaban modern yang menuntut suatu kemampuan dan keahlian mumpuni agar dapat bersaing. Peluang dan tantangan sama kuatnya tersaji di depan kita, memiliki kemampuan identik dengan keberhasilan atau mungkin sebaliknya yang akan terjadi. Belajar hal Formal dan Non Formal untuk meningkatkan kualitas "soft skill dan hard skill" pada diri kita (IQ, SQ, EQ dan PQ)

Kemampuan yang dimiliki sangat identik dengan "semangat belajar" yang tumbuh di dalam diri setiap orang. Pada dasarnya kita memiliki kesempatan dan waktu yang sama untuk belajar berbanding orang lain, dari mulai pendidikan dasar hingga jenjang pendidikan lanjutan. Kita dapat melihat bagaimana kita Sama-sama belajar namun hasilnya yang kita dapatkan berbeda.

Belajar adalah sebuah proses !, belajar adalah semangat, belajar adalah kesempatan, belajar adalah kemauan, belajar adalah mencari dan lain-lain. Pada tulisan ini saya ingin menegaskan bahwasanya, "kita harus senantiasa semangat belajar" di dalam diri kita. Kita harus percaya ... selalu belajar dan terus belajar adalah pintu awal kita untuk berhasil. Rasa percaya adalah sebuah dorongan dan kekuatan untuk kita dapat mengatasi segala hambatan untuk selalu dapat belajar > Believing - Learning - Action.

Di era pembelajaran yang kita alami saat ini, belajar dan terus belajar sudah merupakan tuntutan dan kebutuhan bagi kita. Semangat belajar ini harus tetap kita jaga dan dirawat. Kita merupakan makhluk ciptaan Nya yang paling sempurna, kita diberikan "Hati dan Pikiran" yang menjadi alat bagi kita untuk dapat "merasakan sesuatu yang kurang (review), mengidamkan suatu bentuk yang menjadi lebih baik (dream), menciptakan sesuatu yang baru (create) dan banyak lagi yang dapat kita perbuat.

Apa dan menjadi seperti apa diri kita saat ini ?, sangatlah identik dengan "cara, semangat dan memaksimalkan kesempatan belajar kita di masa lampau. Belajar itu mudah dan tidak rumit, bila kita tidak membuatnya menjadi rumit. Misalnya : Belajar dari kesuksesan orang lain : Saya mengenal seorang Ibu yang sangat berhasi dalam bisnisnya, beliau seorang single parent dengan 3 orang anak dan hanya mengecap pendidikan SMA. Saat ini beliau memiliki SPBU di 8 lokasi dan memiliki armada angkutan lebih dari 300 unit. Kunci suksesnya "selalu belajar dari setiap waktu yang dilaluinya, belajar untuk dapat memperluas jaringan pertemanan bisnisnya. Rajin bertanya dan meminta arahan dari orang-orang yang dianggapnya mempunyai kelebihan dalam masing-masing bidang.

Saya mengamati bagaimana Ibu ini selalu disiplin di dalam berkomunikasi dengan para karyawannya, fokus pada pekerjaannya, menciptakan suasana kerja yang nyaman bagi setiap individu melalui perhatian seorang Ibu kepada anaknya > hal inilah yang saya dpat pelajari dari Ibu ini.

Sukses dan berhasil ya ... kita harus dan harus ... Belajar, Percayalah bahwasanya Belajar itu tidak pernah berhenti, baik formal maupun non formal. Cari, Ciptakan dan Maksimalkan setiap kesempatan yang kita peroleh untuk dapat belajar dari siapapun dan dalam bentuk apapun, karena kesempatan itu tidak selamanya datang ke dua kalinya kepada kita. Akankah kita melepaskan setiap kesempatan yang berharga tersebut. Belajar tidak mengenal "pangkat, usia, gender dan derajat ..., belajar adalah hak setiap orang.
Tools sederhana : mari kita selalu bertanya pada diri kita setiap harinya, atau apa yang dapat kita pelajari dari orang yang baru saja kita temui, teman kita berkomunukasi ? atau dari sesuatu yang kita baca ..., atau juga membuat sebuat catatan kecil .. kita mau belajar apa di hari ini.

Knowledge is Power ...